Kang Dedi Mulyadi Meriahkan Pantai Ciwidig: Lautan Manusia di Abdi Nagri Nganjang ka Warga

Desa Kertajadi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, mendadak jadi lautan manusia. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Pantai Ciwidig, Sabtu 01 November 2025. Hari itu, bukan cuma ombak yang berdebur — tapi juga sorak sorai masyarakat dari tiga kecamatan: Cidaun, Naringgul, dan Sindangbarang. Semua datang dengan semangat yang sama: menyambut kedatangan Kang Dedi Mulyadi dalam rangka Abdi Nagri Nganjang ka Warga.

Lautan Manusia di Pantai Selatan

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Cidaun, kawasan Pantai Ciwidig yang biasanya tenang berubah jadi lautan manusia seluas lebih dari satu hektar. Sejak pagi, warga sudah memadati area pantai, membawa tikar, bekal, dan semangat tumpah ruah. Tak sedikit yang datang dari luar daerah—bahkan beberapa rombongan dari Garut dan Sukabumi ikut nimbrung.

Suasana makin meriah ketika panitia mengumumkan bahwa acara akan menghadirkan bintang-bintang hiburan seperti Sule, Ohang, dan Ceu Popon. Gelak tawa pecah sejak para komedian itu naik ke panggung. Tapi yang paling ditunggu tentu saja momen ketika Kang Dedi Mulyadi tiba di lokasi. Begitu mobil beliau muncul di ujung jalan berdebu, sorakan warga langsung menggema.

Kang Dedi datang!” teriak warga bersahutan sambil mengibarkan tangan dan kamera ponsel.

Kehangatan Seorang Pemimpin yang Dekat

Kang Dedi bukan tipikal pejabat yang suka jaga jarak. Begitu turun dari mobil, beliau langsung menyapa warga satu per satu, menyalami anak-anak kecil, bercanda dengan ibu-ibu, bahkan sempat ikut berfoto bareng remaja yang berdesakan di tepi panggung.

“Abdi datang ka dieu lain keur pidato, tapi keur nyawang langsung kahirupan warga,” ujar Kang Dedi sambil tersenyum. Kalimat sederhana itu langsung disambut tepuk tangan panjang.

Momen seperti ini jarang banget terjadi di kawasan Cidaun. Biasanya, acara pemerintahan berlangsung kaku dan penuh protokol. Tapi kali ini, suasananya cair dan hangat.

Tanpa janji berlebihan, Kang Dedi mencatat semua aspirasi itu dan bilang, “Wilayah selatan kudu maju, da nu di dieu ogé urang Sunda, bagian penting tina Jawa Barat.

Konser Rakyat di Pinggir Samudra

Malam hari, panggung utama mulai mengguncang. Sule tampil dengan gaya khasnya yang nyeleneh dan cerdas, memancing tawa ribuan penonton. Ohang dengan energi spontan khas Sunda menambah seru suasana. Ceu Popon pun tak ketinggalan, membawa lawakan segar yang bikin penonton ngakak sambil goyang bareng.

Di sela hiburan, Kang Dedi menekankan pesan penting: wisata Pantai Ciwidig punya potensi besar. “Wisata di Cianjur selatan ini bisa jadi kebanggaan kalau dikelola bareng-bareng. Jaga alam, jaga pantai, dan kembangkan ekonomi warga,” katanya.

Membangkitkan Harapan Warga Selatan

Warga Desa Kertajadi dan sekitarnya tampak begitu antusias. Banyak yang mengaku baru kali ini merasakan acara sebesar ini di wilayah mereka. Asep, seorang pedagang es kelapa muda, mengaku dagangannya ludes sebelum konser selesai.

“Alhamdulillah, rame pisan. Biasana mah sepi, ayeuna bisa jualan dua kali lipat,” ujarnya sambil tertawa.

Anak-anak muda pun terlihat sibuk berswafoto di spot-spot yang disiapkan panitia. Pantai Ciwidig yang indah jadi latar sempurna untuk momen langka ini. Ada yang datang naik motor, ada yang jalan kaki dari kampung seberang, semua menyatu dalam suasana kebersamaan.

Kehadiran Kang Dedi seolah membuka mata banyak orang bahwa wilayah selatan Cianjur punya pesona luar biasa yang selama ini jarang tersentuh. Potensi wisata, hasil laut, hingga budaya lokal bisa berkembang lebih cepat jika ada dukungan dan perhatian berkelanjutan.

Dari Abdi Nagri ke Gerakan Cinta Daerah

Program Abdi Nagri Nganjang ka Warga sendiri memang bukan sekadar seremonial. Ini adalah bentuk nyata pendekatan pemerintah kepada rakyat—dengan cara yang lebih manusiawi dan membumi. Bukan di gedung mewah atau ruang rapat, tapi langsung di tengah masyarakat, di tempat di mana kehidupan berjalan sebenarnya.

Melalui kegiatan ini, Kang Dedi ingin mengembalikan makna “ngabdi” dalam arti yang sesungguhnya: melayani dan hadir di tengah rakyat. Ia percaya, pembangunan bukan cuma soal infrastruktur, tapi juga soal hubungan emosional antara pemimpin dan warga.

“Mun urang silih hampura jeung silih asah, nagri bakal kuat,” ucapnya sebelum menutup acara.

Ciwidig, Bukan Lagi Nama yang Sepi

Menjelang tengah malam, cahaya bulan jatuh lembut di atas ombak Pantai Ciwidig. Warga masih enggan beranjak, menikmati sisa suasana hangat hari itu. Bagi banyak orang, momen ini bukan sekadar hiburan, tapi juga simbol perubahan: Ciwidig kini bukan lagi pantai yang sepi, tapi jadi pusat kebersamaan dan kebanggaan warga selatan Cianjur.

Kang Dedi telah meninggalkan jejak yang dalam — bukan hanya di pasir pantai, tapi juga di hati masyarakat yang merindukan kehadiran pemimpin yang mau turun langsung.

Dari tawa warga hingga teriakan anak-anak kecil yang berlarian di bibir pantai, semua jadi bukti bahwa hari itu, Pantai Ciwidig benar-benar hidup. Dan siapa tahu, dari sini, destinasi wisata ini akan terus tumbuh jadi magnet baru bagi wisatawan Jawa Barat dan Indonesia.